Senin, 27 April 2009
Berpikir Lateral
Senin, 16 Maret 2009
Kakek dan Cucu
Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan dua orang wanita yang menyalahkan sang kakek karena membiarkan cucunya berjalan kaki sementara ia sendiri naik keledai. Sang kakek lalu memutuskan untuk menaikkan cucunya ke atas keledai untuk duduk bersama-sama dengan dia di atas keledai.
Kemudian mereka bertemu dengan beberapa orang muda yang menyalahkan tidak hanya sang kakek tetapi juga sang cucu karena membebani keledainya yang sudah tua dengan duduk bersama-sama di atas keledai. Akhirnya sang kakek dan cucunya turun dari keledai dan kemudian berjalan bersama sambil menggotong keledai mereka.
Moral:
· Kalau kita tidak punya prinsip dalam kehidupan, maka kita akan terombang-ambing dengan berbagai pendapat orang yang berbeda-beda.
· Kita tidak bisa menyenangkan atau memuaskan semua pihak. Selalu saja akan ada yang tidak setuju dengan pendapat atau apa yang kita lakukan. So,... just do it!
Kamis, 12 Maret 2009
Menjadi Pria Sejati
tetapi dari besarnya penerimaan tanggung-jawab kepada istri dan anak-anaknya.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar,
tetapi dari kasih sayangnya pada keluarganya.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya
tetapi dari sikap bersahabatnya pada orang lain.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat bekerja
tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan
tetapi dari sikap bijaknya memahami dan memutuskan persoalan.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang
tetapi dari hati yang ada di balik itu.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja
tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan
tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan.
Pria Sejati bukanlah dilihat dari giatnya membaca Kitab Suci
tetapi dari konsistensinya dalam menjalankan apa yang dibaca.
Menjadi laki-laki adalah suatu kelahiran, tetapi menjadi pria sejati adalah suatu PILIHAN - Edwin Louis Cole
Kamis, 05 Maret 2009
K I S S
Kasus 1: Kotak Sabun Yang Kosong
Kasus ini terjadi terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) yang kosong.
Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.
Kasus 2: Menulis di Luar Angkasa
Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah ter-sebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!
Kasus 3: Mengatasi Keterlambatan Lift
Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Ia kemudian mengundang sejumlah pakar untuk mencari solusinya. Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain mengusulkan untuk mengganti lift yang lebih cepat sehingga semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, "Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu". Pakar tadi hanya menyarankan untuk memasang cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" sehingga merasa "tidak menunggu lift".
Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana sehingga orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Di Jepang, filosofi ini disebut pokayoke. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada berfokus pada masalah. - dari email antar teman
Kamis, 19 Februari 2009
HALT
1. H - Hungry. Pada umumnya, ketika lapar, seseorang akan sulit berpikir jernih. Seorang teman saya bahkan pernah berkata bahwa ketika ia lapar ia berbelanja dengan rakus dan tidak rasional. Rasanya semua ingin dibeli. Hindari pengambilan keputusan penting saat Anda sedang lapar.
2. A – Angry. Hati-hati dengan reaksi Anda ketika sedang marah. Pada saat seperti itu, logika Anda tidak berfungsi banyak karena Anda lebih dikendalikan oleh emosi Anda. Keputusan yang diambil pada saat sedang marah seringkali disesali belakangan. Karena itu, tunggu sampai amarah Anda reda sebelum mengambil keputusan-keputusan penting.
3. L – Lonely. Seorang pimpinan sales representative di sebuah perusahaan farmasi telah ditipu mentah-mentah oleh seorang pria yang telah beristri. Ceritanya berawal dari rasa kesepian, di mana ia membutuhkan teman untuk sharing, untuk mencurahkan isi hatinya, sampai-sampai ia mengalami cinta buta. Ia bahkan merelakan kartu kreditnya dipakai tak terbatas oleh sang pria. Belakangan ia baru sadar bahwa ia telah tertipu.
4. T – Tired. Ketika mengambil sertifikasi master saya di bidang rekrutmen dan asesmen, saya pernah mempelajari teknik stress interview. Caranya calon pelamar kerja dibuat menjadi letih dan capek menunggu. Tanpa setetes airpun mereka dibiarkan letih secara fisik lalu diobservasi. Logikanya, kalau mereka punya daya tahan tinggi, meskipun capek, mereka akan tetap bisa menjawab pertanyaan dan tes dengan baik. Cara ini banyak dipakai dalam bidang militer khususnya dalam interogasi. Tentu saja teknik ini kurang manusiawi dan sudah ditinggalkan dalam dunia rekrutmen. Tetapi ada kenyataan yang dipercaya di sini yaitu bahwa ketika kita capek, kita menjadi kurang rasional. Kita menjadi mudah terpengaruh dan sulit mengendalikan pikiran, sikap serta tindakan kita sendiri.
Keempat kondisi di atas, Hungry, Angry, Lonely, Tired akan menyebabkan Anda mengambil keputusan yang tidak rasional yang bisa merugikan Anda sendiri. Karena itu, sedapat mungkin hindari pengambilan keputusan bila Anda berada dalam situasi di atas.
Rabu, 18 Februari 2009
Pelajaran Dari Kupu-kupu
Tampaknya usaha keras itu sia-sia. Tidak ada kemajuan yang berarti. Calon kupu-kupu itu telah sampai ke satu titik akhir dan tidak bisa berlanjut lagi. Pria itu memutuskan untuk membantu sang kupu-kupu.
Ia mengambil gunting dan membuka kepompong, dan kupu-kupu itu segera dapat keluar dengan sangat mudahnya. Tapi apa yang terjadi? Tubuh kupu-kupu itu tidak sempurna, bentuknya kecil dan sayapnya tidak dapat mengembang.
"Tidak lama lagi sayapnya pasti terbuka, membesar, dan berkembang." Pria itu terus memperhatikan dan berharap. Tapi itu tidak terjadi. Kupu-kupu itu malah menghabiskan seluruh hidupnya merayap dengan tubuhnya yang lemah dan sayap yang terlipat. Kupu-kupu itu tidak bisa terbang.
Pria itu berniat baik dengan perbuatannya, tapi sayangnya ia tidak mengerti, bahwa perjuangan kupu-kupu untuk lepas dari kepompongnya dengan mengeluarkan seluruh cairan dari tubuhnya adalah suatu proses yang sangat penting. Proses itu dibutuhkan agar sayapnya dapat berkembang dan siap untuk terbang begitu ia keluar dari kepompongnya, seperti yang telah ditentukan Tuhan.
Seringkali perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa cobaan, kondisi itu akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat seperti apa yang kita harapkan, kita tidak akan pernah terbang.
Kita meminta kekuatan dan Tuhan memberi kita kesulitan untuk kita hadapi yang membuat kita menjadi kuat. Kita meminta kebijaksanaan dan Tuhan memberikan kita masalah yang harus kita pecahkan. Kita meminta kemakmuran dan Tuhan berikan otak dan kekuatan untuk bekerja. Kita meminta keberanian dan Tuhan memberi kita tantangan untuk kita hadapi. Kita meminta cinta dan Tuhan memberikan orang yang dalam kesulitan untuk kita bantu. Kita meminta pertolongan dan Tuhan memberi kita kesempatan. Kita tidak menerima apa yang kita inginkan tetapi kita menerima apa yang kita butuhkan. Jalanilah hidup tanpa ketakutan, hadapi semua masalah dan yakinlah bahwa kita dapat mengatasi semua itu.
Minggu, 15 Februari 2009
Empat Langkah Penting
Bukan apa yang terjadi pada Anda, tetapi apa reaksi Anda untuk semua yang terjadi, khususnya kalau Anda menghadapi berbagai masalah yang tidak Anda harapkan. Anda akan belajar strategi yang dapat Anda gunakan untuk membuat Anda tetap berpikir dan bertindak positif dan kreatif. Ada empat hal yang dapat Anda lakukan yang akan memastikan bahwa sikap Anda tetap sebaik mungkin dalam segala situasi.
Fokus ke Masa Depan
Pertama, tantangan apapun yang Anda hadapi, pusatkan perhatian Anda pada masa depan, bukan pada masa lalu. Daripada mencari kambing hitam, siapa yang salah atau apa penyebabnya, pusatkan perhatikan Anda pada kemana arah Anda dan apa yang Anda ingin lakukan. Dapatkan gambaran jelas tentang sukses masa depan yang Anda inginkan dan ambil langkah apapun yang diperlukan agar Anda bergerak ke arah tersebut. Arahkan pikiran dan imajinasi Anda ke masa depan.
Fokus Pada Solusi
Kedua, kalau Anda menghadapi masalah, pusatkan perhatian Anda pada solusi, bukan pada masalahnya.Pikirkan dan bicarakan solusi ideal terhadap kesulitan atau penghalang tersebut dan jangan menghabiskan waktu pada masalah. Solusi selalu bersifat positif sementara masalah selalu negatif. Pada saat Anda mulai berpikir dan berfokus pada solusi, sikap Anda menjadi positif dan membangun.
Lihat Kepada Yang Baik
Ketiga, anggap ada sesuatu yang baik yang tersembunyi pada setiap kesulitan atau tantangan. Dr. Norman Vincent Peale, yang banyak mengajarkan berpikir positif, pernah berkata, ”Pada waktu Tuhan mau memberkati kita, Ia membungkusnya dalam masalah.” Semakin besar berkatNya, semakin besar juga masalahnya. Kabar baiknya adalah kalau Anda dapat melihat kepada berkatnya, Anda akan selalu mendapatkannya.
Lihat Kepada Pelajaran yang Berharga
Keempat, anggap setiap situasi yang sedang Anda hadapi saat ini adalah situasi tepat yang Anda butuhkan untuk benar-benar berhasil. Situasi ini sengaja dikirim kepada Anda untuk menolong Anda belajar sesuatu, untuk menolong Anda menjadi lebih baik, untuk menolong Anda bertumbuh dan berkembang.
Kerjakan Apa Yang Dikerjakan Orang-orang Yang Berhasil
Sikap mental positif tidak dapat diabaikan untuk kesuksesan Anda. Anda dapat menjadi sepositif mungkin seperti yang Anda inginkan kalau saja orientasi Anda selalu ke masa depan, berfokus pada solusi dan mencari yang baik. Jika Anda selalu mengerjakan apa yang dikerjakan orang-orang sukses, jika Anda menggunakan pikiran Anda untuk mengendalikan situasi, Anda akan lebih banyak bersikap positif dan ceria. Akibatnya, Anda akan mendapatkan semua yang dinikmati oleh mereka yang sukses.
Langkah Praktis Untuk Diterapkan
Pertama, selalu berorientasi pada solusi ketika Anda menghadapi kesulitan apapun. Jadikan kebiasaan untuk selalu mencari jawaban terhadap semua pertanyaan Anda, mencari solusi terhadap masalah-masalah Anda.
Ahli Manajemen Waktu
Ketika ia berdiri di hadapan para siswanya ia berkata, "Baiklah, sekarang waktunya kuis."
Kemudian ia mengeluarkan toples berukuran satu galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.
Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, ia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah."
Kemudian ia berkata, "Benarkah? Ia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu ia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah2 batu-batu itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, "Apakah toples ini sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum", sa-lah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali ia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeran-jang pasir. Ia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi ia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab.
Sekali lagi ia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang para siswanya dan bertanya, "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswa-nya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat me-nyisipkan jadwal lain ke dalamnya"
"Bukan", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa: Kalau kamu tidak meletak-kan batu besar itu sebagai yg pertama, kamu tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam toples sama sekali.
Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persaha-batanmu, pendidikanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Hobby-mu, waktu untuk dirimu sendiri, kesehatanmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar ini sebagai yang pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk melakukannya. "Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil, kerikil dan pasir, dalam waktumu maka kamu hanya memenuhi hidup-mu dengan hal-hal kecil, kamu tidak akan punya waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting, yaitu batu-batu besar, dalam hidupmu.
Selasa, 06 Januari 2009
HAPPINESS ON HOLD
We convince ourselves that life will be better after we get married,have a baby, then another.
Then we are frustrated that the kids aren't old enough
and we'll be more content when they are.
After that, we're frustrated that we have teenagers to deal with.
We will certainly be happy when they are out of that stage.
We tell ourselves that our life will be complete when our spouse gets his or her act together, when we get a nicer car, are able to go on a nice vacation, or when we retire.

The truth is, there's no better time to be happy than right now.
If not now, when?
Your life will always be filled with challenges.
It's best to admit this to yourself and decide to be happy anyway.
Happiness is the way.
So, treasure every moment that you have and treasure it more
because you shared it with someone special,
special enough to spend your time with...
and remember that time waits for no one.

So, stop waiting.... 
until your car or home is paid off--
until you get a new car or home --
until your kids leave the house --
until you go back to school --
until you finish school --
until you lose 10 lbs. --
until you gain 10 lbs. --
until you get married --
until you get a divorce --
until you have kids --
until you retire --
until summer --
until spring --
until winter --
until fall --
until you die.
There is no better time than right now to be happy.
Happiness is a journey, not a destination.
So -- work like you don't need money,
Love like you've never been hurt,
And dance like no one's watching....

Author Unknown
Prasangka
Senin, 05 Januari 2009
Seven Secrets of Successful Managers
Setelah sekian tahun bekerja bersama klien dari seluruh dunia, saya berkesempatan untuk mengamati para manajer sukses luar biasa di profesi yang mereka pilih. Meski pun mereka bekerja di berbagai bidang, industri dan budaya yang berbeda, hal yang menarik pengamatan saya tidak terletak pada perbedaan itu, tetapi apa yang mereka miliki pada umumnya. Saya sangat terkesan sekali dengan pola perilaku yang mereka tunjukkan secara konsisten dalam pendekatan mereka terhadap orang lain. Bagaimana pun, mereka telah menemukan secara intuitif, tujuh rahasia berikut, yang saya percaya dimiliki oleh manajer sukses pada umumnya.
1. Teladan Yang Transparan
Manajer-manajer yang paling sukses selalu mengenakan nilai-nilai pribadi dan organisasi dalam lengan bajunya. Mereka memiliki pengetahuan dan ketrampilan tinggi; dan terus berusaha untuk menguasai keduanya. Dengan melakukan ini, mereka menjadikan diri mereka teladan bagi orang lain baik di dalam maupun di luar pekerjaan. Apakah itu berupa dedikasi untuk memberikan pelayanan pada konsumen, komitmen pada mutu, atau hal-hal lain, mereka mewujudkan dan mempratekkan sendiri nilai-nilai tersebut, dan senantiasa berusaha keras untuk menguasai dan memperbaikinya. Karena mereka selalu melihat pada perilaku diri mereka sendiri sebelum memandang orang lain, mereka dipercaya sebagai teladan, dan perintahnya dihormati.
2. Meminta Hal yang Sama dari Orang Lain
Mereka mampu memvisualisasikan ketrampilan, pengetahuan dan budaya yang diperlukan oleh organisasi dan pribadi untuk mencapai sukses. Mereka pun mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama sesuai dengan tuntutan perubahan. Mereka memang tidak "sabaran" dalam mengejar goal individu, namun mereka sangat sabar dalam menolong orang lain agar mau mencapai tujuan tersebut. Sekali mereka mampu meraih sejumlah orang yang mau berubah, mereka meminta dan mengharapkan kesetiaan penuh pada budaya organisasi yang baru. Misi mereka bukan untuk menciptakan sekelompok orang yang meniru mereka, namun menolong setiap orang agar bisa meraih kemampuan tertingginya. Untuk itu, mereka mencanangkan standar dan harapan tinggi untuk sukses.
3. Membimbing Orang Lain
Bagi manajer sukses, setiap berhubungan dengan orang lain adalah kesempatan untuk melakukan coaching atau pelatihan. Pelatihan meliputi pelatihan perilaku, pendidikan, memberikan dorongan, menunjukkan bagaimana seharusnya, memberikan counseling, dan lain sebagainya. Tetapi, fokus semua ini adalah untuk menolong orang lain menggapai sukses. Para manajer ini secara konstan dan aktif terlibat dalam pengembangan kinerja orang lain agar menjadi lebih berbakat dan mampu.
4. Membukukan Prestasi
Mereka memiliki standar kinerja yang dapat diukur dan dinyatakan. Mereka secara jelas menunjukkan faktor-faktor kesuksesan pada setiap orang dalam organisasi. Standar ini merupakan rencana pengembangan individu, yang karenanya dirancang sedemikian rupa untuk setiap orang dalam organisasi. Mereka memberikan wewenang sekaligus mengharap-kan pertanggungjawaban.
5. Melatih Manajer Baru Agar Bisa Melatih Orang Lain
Mereka mengakui bahwa beberapa orang dalam organisasi akan memegang tanggung jawab yang lebih besar di masa datang. Karenanya mereka menyiapkan masa depan organisasi dengan melatih orang-orang tersebut agar mampu melatih orang lain. Mereka memberikan orang-orang ini kesempatan untuk memperlebar ketrampilannya dengan mengembangkan ketrampilan orang lain.
6. Menerapkan Program yang Luar Biasa
Banyak orang yang merasa puas dengan tanggung jawab mereka saat ini. Manajer sukses tidak menggunakannya sebagai alasan untuk tidak tumbuh berkembang. Mereka senantiasa meluaskan jalan dan menemukan cara-cara baru agar orang lain pun bisa tumbuh dan mengembangkan posisinya. Mereka mengakui bahwa perkembangan dan pertumbuhan yang terus-menerus adalah perjalanan hidup yang panjang, bukanlah tujuan. Dan program yang mereka terapkan merefleksikan hal ini.
7. Mengulangi, Mengulangi, dan Mengulangi
Orang-orang sukses mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang dicapai dalam semalam. Manajer yang baik meraih keberhasilan mereka ini melalui konsistensi dan disiplin. Mereka pun menolong sukses orang lain melalui peneladanan dan pelatihan yang terus-menerus diulang. Mereka tahu, satu-satunya jalan untuk menjaga tingkat sukses yang tinggi adalah melalui disiplin dan pelatihan yang berulang-ulang. Pada kenyataannya, tanpa pengulangan dan latihan, 6 rahasia di atas hanya merupakan kalimat-kalimat menarik ketimbang praktek manajemen yang sukses. Semuanya akan menjadi kebiasaan yang membentuk dasar sukses yang berkelanjutan. Meski banyak rahasia untuk sukses, tampak sekali hal-hal yang sebenarnya common sense. Meski tampaknya mudah dimengerti, namun rahasia ini sulit untuk dilaksanakan. Dan hanya dengan sungguh-sungguh menerapkannya, sukses menunjukkan perbedaannya dari mereka yang cuma main-main.
Life Is A Gift
Think of someone who can't speak.
Hari ini, sebelum Anda hendak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, pikirkanlah seseorang yang tidak dapat berbicara
Before you complain about the taste of your food –
Think of someone who has nothing to eat.
Sebelum Anda mengeluh karena makanan,
pikirkanlah seseorang yang tidak punya sesuatu untuk dimakan
Before you complain about your husband or wife - Think of someone who's crying out to God for a companion.
Sebelum Anda mengeluh karena suami atau isteri Anda,
pikirkanlah seseorang yang ingintetapi belum dapat jodoh
Today before you complain about life –
Think of someone who went too early to heaven.
Hari ini, sebelum Anda mengeluh karena kehidupan yang dihadapi,
pikirkanlah seseorang yang meinggal dalam usia muda
Before you complain about your children –
Think of someone who desires children but they're barren.
Sebelum Anda mengeluh karena tingkah laku anak-anak Anda
pikirkanlah seseorang yang ingin memiliki keturunan tetapi mandul
Before you argue about your dirty house, someone didn't clean or sweep – Think of the people who are living in the streets.
Sebelum Anda mengomel karena rumah yang kotor, tidak dibersihkan pembantu, pikirkanlah mereka yang tinggal di jalanan.
Before whining about the distance you drive – Think of someone who walks the same distance with their feet.
Sebelum Anda mengeluh karena capai menyetir jarak jauh, pikirkanlah seseorang yang harus jalan kaki menempuh jarak tersebut
And when you are tired and complain about your job - Think of the unemployed, the disabled and those who wished they had your job.
Jika Anda capai dan mengeluh karena pekerjaan, pikirkanlah mereka yang tidak punya pekerjaan, tidak mampu dan berharap dapat bekerja seperti Anda
But before you think of pointing the finger or condemning another – Remember that not one of us are without wrong doings.
Sebelum Anda menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak seorangpun di antara kita yang tidak pernah berbuat salah
And when depressing thoughts seem to get you down –
Put a smile on your face and be thankful you're alive and still around.
Dan ketika pikiran-pikiran depresi menekan Anda, tersenyumlah dan bersyukur karena Anda masih hidup dan beraktivitas
Life is a gift, live it, enjoy it, celebrate it, and fulfill it.
Kehidupan adalah sebuah karunia. Karena itu jalani dan kobarkanlah, nikmatilah, rayakanlah, dan lakukanlah tugas Anda; penuhi panggilan Anda.
Senin, 06 Oktober 2008
Great Leadership Begins With A Serving Heart
The Two Parts of Leadership
Robert Greenleaf first coined the term “servant leadership” in 1970 and published widely on the concept for the next 20 years. Yet when people hear the phrase “servant leadership,” they are often confused. They immediately conjure up thoughts of the inmates running the prison, or trying to please everyone. Others think servant leadership is only for church leaders. The problem is these people don’t understand that leadership has two parts: vision and implementation. Because of this, they think you can’t lead and serve at the same time. Nothing could be further from the truth.
Setting the Vision versus Implementing the Plan
The first part of leadership--setting the vision--is where a leader defines the direction and communicates what the organization stands for and wants to accomplish. Once people are clear on where they are going, the leader’s role shifts to a service mindset for the task of implementation--the second aspect of leadership. How do you make the dream happen? This is where the servant aspect of servant leadership comes into play.
In his book Good to Great, Jim Collins contends that true leadership--the essence of what people long for and want desperately to follow--implies a certain humility that is appropriate and elicits the best response from people. He found two characteristics that describe great leaders: will and humility. Will is the determination to follow through on a vision/mission/goal. Humility is the capacity to realize that leadership is not about the leader; it’s about the people and what they need.
According to Collins, when things are going well for typical self-serving leaders, they look in the mirror, beat their chests, and tell themselves how good they are. When things go wrong, they look out the window and blame everyone else. On the other hand, when things go well for great leaders, they look out the window and give everybody else the credit. When things go wrong, these servant leaders look in the mirror and ask questions such as “What could I have done differently that would have allowed these people to be as great as they could be?”
Serving or Self-Serving?
When we talk about servant leadership and ask people whether they are a servant leader or a self-serving leader, no one will admit they’re a self-serving leader. Yet we observe self-serving leadership all the time. What is the difference? Too many people think that who they are is their position and the power it gives them. Yet that’s not true. Where does your power come from? It’s not from your position; it’s from the people whose lives you touch. You finally become a true leader when you realize that life is about what you give rather than what you get. The shift from selfserving leadership to leadership that serves others is motivated by a change in heart. Servant leaders realize that leadership is not about them. It’s about what and who they are serving. Effective servant leaders recognize that their jobs are to create and maintain cultures that turn on employees so they can turn on customers.
Today’s leaders need to be highly skilled in both setting overall corporate vision and serving in the role of coach and supporter for their people in helping them to get their jobs done. These leaders do that by looking down the traditional hierarchy and saying, “What can I do for you?” rather than having their people looking up the hierarchy and saying, “What can we do for you?” They constantly try to find out what their people need to be successful. Rather than wanting people to please their bosses, servant leaders want to make a difference in the lives of their people and, in the process, impact the organization. – (The Ken Blanchard Companies)
Minggu, 27 Januari 2008
ATTITUDE
Jika kita memberi nilai 1 untuk huruf A, 2 untuk huruf B, 3 untuk huruf C, dst... sampai nilai 26 untuk huruf Z, maka akan didapat nilai dari kata-kata sebagai berikut:
• HARD WORK (kerja keras)
H + A + R + D + W + O + R + K
8+1+18+4+23+15+18+11 = 98%
• KNOWLEDGE (pengetahuan)
K+N+O+W+L+E+D+G+E
11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96%
• LOVE (cinta, kasih)
L+O+V+E
12+15+22+5 = 54%
• LUCK (keberuntungan)
L+U+C+K
12+21+3+11 = 47%
Sebagian besar dari kita menganggap hal-hal di atas sebagai yang paling penting. Tapi apa yang dapat membuat hidup Anda bermakna 100%? Apakah money atau leadership?
• MONEY (uang)
M+O+N+E+Y
13+15+14+5+25 = 72%
• LEADERSHIP (kepemimpinan)
L+E+A+D+E+R+S+H+I+P
12+5+1+4+5+18+19+9+16 = 89%
Ternyata bukan! Setiap masalah mungkin mempunyai jawaban hanya ketika kita mengubah attitude atau sikap hati kita. Untuk mencapai nilai 100%, yaitu nilai maksimal, kita perlu melangkah sedikit lebih jauh lagi.
• ATTITUDE (sikap hati)
A+T+T+I+T+U+D+E
1+20+20+9+20+21+4+5 = 100%
Sikap hati kita terhadap kehidupan dan pekerjaan yang membuat hidup kita menjadi 100%. Sikap hati kita juga menentukan cara pandang kita terhadap kehidupan. Sikap hati kita menentukan cara kita menghargai apa yang kita miliki. Sikap hati kita menentukan cara kita memperlakukan orang lain.
”Wah, luar biasa, Yah!”
”Kamu lihat betapa miskinnya orang-orang tersebut”, ayahnya bertanya.
”Oh, ya!”, jawab anaknya.
”Coba ceritakan apa yang kamu pelajari dari perjalanan ini!”, pinta ayahnya.
Jumat, 25 Januari 2008
Penjual Topi & Monyet
L E A D E R
Salah seorang pembicara dan pelatih kepemimpinan mendefinisikan kepemimpinan atau leadership sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Dengan kata lain, tingkat kepemimpinan kita sejalan dengan kemampuan kita dalam mempengaruhi orang lain. Padahal dalam kehidupan kita sehari-hari, sadar atau tidak sadar kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang lain. Jadi, sepanjang hidup, kita akan selalu dipimpin orang lain dan bersamaan dengan itu juga memimpin orang lain. Di tempat pekerjaan, kita melakukan perintah atasan sebagai pemimpin kita, sementara itu di rumah kita memimpin isteri dan anak-anak dalam keluarga kita. Jika kita juga aktif di dalam organisasi masyarakat sebagai pemimpin maka otomatis kita juga memimpin orang-orang dalam organisasi tersebut untuk mencapai visi dan misi yang sudah ditetapkan.
Kemampuan untuk memimpin itu sendiri bisa dipelajari dan dikembangkan karena masing-masing orang mempunyai benih atau potensi sebagai seorang pemimpin. Jika kita secara sengaja dan teratur mengembangkan kemampuan tersebut, maka kita akan menjadi seorang leader yang efektif, yang mampu menggerakkan orang-orang untuk mencapai tujuan bersama dengan lebih baik.
Beberapa cara praktis untuk bisa mengembangkan kemampuan kepemimpinan tersebut dapat dijabarkan secara sederhana ke dalam enam langkah sederhana yang disingkat menjadi LEADER.
L - Learner
Seorang leader adalah seorang pembelajar. You stop learning means you stop leading. Jika anda berhenti belajar, anda berhenti memimpin. Seumur hidupnya seorang leader terus membina dirinya lewat bacaan, pergaulan dan lingkungannya. Anda yang ada saat ini akan tetap sama lima tahun dari sekarang kecuali anda mengubah apa yang anda baca dan dengan siapa anda bergaul. Anda harus secara sengaja membawa diri anda ke dalam lingkungan yang akan membangun anda lewat bacaan dan pergaulan anda. Bacaan apa yang anda baca selama ini? Dengan siapa saja anda bergaul selama ini?
You choose your own enviroment. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Jika anda bergaul dengan seorang yang suka marah, anda juga akan terbiasa dengan sikapnya dan tidak lama kemudian anda juga menjadi pemarah. Jika anda bergaul dengan orang bijak, lambat laun prinsip-prinsip hidup orang tersebut akan masuk ke dalam hidup anda dan menjadikan anda bijak. Jika anda bergaul dengan pengusaha-pengusaha sukses, anda pun akan terbawa kepada cara berpikir dan kebiasaan yang menjadikan mereka sukses.
E - Excellent
Suka atau tidak, seorang leader akan menjadi patokan, ukuran tindakan bagi pengikutnya. You are the pace setter. Anda yang menentukan ukuran, benchmark bagi pengikut anda. Jika anda tidak menetapkan standar yang tinggi, jangan berharap pengikut anda akan punya standar kerja yang tinggi juga. Jika anda selalu terlambat tiba di tempat pekerjaan, anak buah anda juga akan terlambat tiba di tempat pekerjaan. Jika anda sering berbohong kepada customer anda, karyawan anda juga akan ikut melakukannya. Jika anda selalu mencurigai karyawan anda, perusahaan tempat anda bekerja akan menjadi tegang dan kering karena semua orang saling curiga terhadap temannya. Manajemen salah satu hotel terkenal mempunyai prinsip untuk menghargai dan memperhatikan karyawannya dengan baik. Akibatnya, semua karyawannya juga mempunyai spirit yang sama terhadap para pelanggan. Dengan sendirinya pelanggan hotel tersebut menjadi betah dan senang untuk selalu menginap di hotel tersebut. Apa yang anda buat akan ditiru dan diduplikasi oleh pengikut anda. Itu sebabnya, sebagai leader anda harus punya excellent spirit, semangat untuk mengejar dan menghasilkan yang terbaik
A – Attitude
Attitude determines altitude. Sikap anda di dalam kehidupan ini akan menentukan sejauh mana anda mengalami kemajuan. Banyak hal yang terjadi di luar kendali anda, tetapi anda yang menentukan bagaimana anda harus bersikap. Anda tidak bisa mengendalikan hujan, tetapi anda yang menentukan sikap anda. Anda bisa jengkel karena hujan, anda juga bisa bersukacita karena hujan. Anda bisa menganggap setiap tantangan yang anda hadapi sebagai penghalang, anda juga bisa menganggap tantangan tersebut menjadi peluang untuk anda maju.
Aptitude opens the door, but attitude determines how wide and how long it will be. Talenta atau keahlian anda akan membuka peluang baru bagi anda, tetapi sikap andalah yang akan menentukan sejauh mana anda bisa berkembang di tempat tersebut. Seringkali keberhasilan seseorang ditentukan oleh sikapnya dalam menghadapi persoalan.
D - Dreamer
Salah satu hal yang membedakan leader dari para pengikutnya adalah kemampuannya untuk melihat jauh ke depan. Seorang leader adalah seorang dreamer. Leader sees the unseen and translates it to his followers. Kemampuan untuk melihat sasaran yang jauh di depan dan belum terlihat oleh mata jasmani dan kemudian mengubahnya menjadi langkah-langkah praktis untuk mencapainya merupakan keahlian yang perlu terus dikembangkan. Beberapa leader membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa menterjemahkan mimpinya menjadi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan. Walaupun demikian, kemampuan untuk bermimpi, untuk melihat hal-hal yang ingin dicapai di masa mendatang harusnya menjadi bagian sang pemimpin.
E – Encourager
Untuk mengembangkan kemampuan leadership anda juga harus menjadi seorang encourager, bukan discourager. Ketika anak buah anda melakukan kesalahan, ia sudah merasa tertuduh. Pada saat seperti itu, seringkali yang dibutuhkan adalah dorongan semangat baru agar ia tidak putus asa. Be a person of solutions oriented instead of faults finding oriented. Lebih baik berfokus pada solusi daripada berusaha untuk mencari kambing hitam.
R – Responsible
Seorang leader berani mengambil tanggung jawab. Anda tidak melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, apalagi kepada anak buah anda, sebaliknya anda memikul tanggung jawab sekalipun anak buah anda yang membuat kesalahan. Sebagai leader, seharusnya anda tidak menyalahkan anak buah anda di hadapan orang lain karena itu hanya menunjukkan kelemahan anda sebagai leader.
Salah seorang pemimpin dunia meletakkan tulisan di meja kerjanya, “The buck stops here” - semua tanggung jawab berakhir di meja ini - untuk selalu mengingatkan dirinya bahwa dialah yang bertanggung jawab atas prestasi dan hasil kerja anak buahnya.
Be a good leader!


